Bisnis Indonesia : Kontribusi BUMN Rp. 148 Triliun

Tahun Depan, Kontribusi BUMN Ditarget Rp 148 T
Setoran Pertamina Bakal Dikoreksi

JAKARTA Jawa Pos - Karena kinerjanya terus membaik, kontribusi BUMN ke penerimaan negara meningkat. Tahun depan, seluruh perusahaan pelat merah bakal ditarget memberikan kontribusi Rp 148 triliun.

Menurut Men BUMN Sofyan Djalil, target Rp 148 triliun diproyeksikan dicapai dari pos dividen sebesar Rp 33 triliun dan pos pajak Rp 115 triliun. ”Intinya, kontribusinya harus naik,” ujarnya dalam paparan saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta kemarin (16/9).

Berdasar data di Kementerian BUMN, target kontribusi BUMN Rp 148 triliun tersebut berarti naik 14,72 persen dibandingkan target 2008 sebesar Rp 129,1 triliun.

Meski begitu, kata Sofyan, salah satu yang mesti menjadi perhatian pemerintah dan DPR adalah kondisi ekonomi global, termasuk harga komoditas di pasar internasional. ”Sebab, hal ini akan sangat mempengaruhi kinerja BUMN dan berdampak pada proyeksi dividen,” katanya.

Dia mencontohkan tren penurunan harga minyak akan mempengaruhi kinerja keuangan PT Pertamina yang mengandalkan sektor hulu atau produksi migas dalam perolehan laba. ”Kontribusi Pertamina cukup signifikan mempengaruhi total setoran dividen,” terangnya.

Dalam usulan terbarunya, Kementerian BUMN menargetkan Pertamina menyetor dividen Rp 14,9 triliun ditambah keuntungan akibat lonjakan harga minyak (windfall profit) sebesar Rp 3,3 triliun. Jadi, total target setoran Pertamina sebesar Rp 18,2 triliun.

Untuk target dividen sebesar Rp 33 triliun, BUMN perbankan ditarget menyetor sebesar Rp 4,1 triliun, dan BUMN nonperbankan di luar Pertamina ditarget Rp 7,7 triliun. Sedangkan tambahan target setoran BUMN nonPertamina sebesar Rp 3 triliun.

Tapi, berkaca pada kondisi terkini, target setoran dividen Pertamina hampir pasti dikoreksi. Sekretaris Men BUMN Said Didu mengatakan, target setoran Rp 18,2 triliun dihitung dengan asumsi harga minyak di kisaran USD 140 per barel. Padahal, saat ini harga minyak turun di bawah USD 100 per barel. ”Jadi, pasti akan dikoreksi. Mungkin sekitar 20 persen,” ujarnya.

This entry was posted on Wednesday, September 17th, 2008 at 9:10 am and is filed under bisnis indonesia. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply