Bisnis Indonesia : Pasar Komoditas Global Lesu Target Dividen BUMN Rp 27 T Direvisi

Target Dividen BUMN Rp 27 T Direvisi karena Lesunya Pasar Komoditas Global

JAKARTA - Memburuknya kondisi pasar global memaksa pemerintah kembali merevisi target setoran dividen 2009. Hanya selang waktu dua hari, target setoran dividen BUMN pada 2009 dipangkas sebesar Rp 5,98 triliun.

Men BUMN Sofyan Djalil mengatakan, kondisi pasar komoditas terus berubah cepat dalam hitungan hari. Karena itu, target awal setoran dividen Rp 33 triliun terpaksa diturunkan menjadi Rp 27,02 triliun. ”Itu angka yang realistis,” ujarnya saat Rapat Kerja bersama menkeu di Komisi XI DPR kemarin (18/9).

Dalam paparannya, Sofyan mengungkapkan, target setoran dividen untuk RAPBN 2009 sebesar Rp 27,02 triliun merupakan dividen murni. Itu berasal dari pos dividen Pertamina senilai Rp 12,46 triliun, dividen 19 BUMN besar senilai Rp 12,22 triliun, dan dividen BUMN minoritas senilai Rp 2,34 triliun.

Sebelumnya, saat rapat kerja dengan Komisi XI Selasa (16/9), pemerintah mengusulkan target setoran Rp 33 triliun. Target itu diharapkan dapat disumbang dari pos dividen BUMN perbankan senilai Rp 4,1 triliun, Pertamina Rp 14,9 triliun, dan BUMN nonperbankan di luar Pertamina Rp 7,7 triliun.

Lalu, ditambah pos dividen dari windfall profit Pertamina akibat tingginya harga minyak sebesar Rp 3,3 triliun dan windfall profit atas tingginya harga komoditas lain dari BUMN nonPertamina sebesar Rp 3 triliun.

Menurut Sofyan, target setoran total dividen dari Pertamina dipangkas dari Rp 18,2 triliun menjadi Rp 12,46 triliun. Hal itu disebabkan merosotnya harga minyak hingga di bawah USD 100 per barel. Padahal, asumsi harga minyak yang sebelumnya dipakai untuk menghitung target setoran Pertamina di kisaran USD 140 per barel. ”Penurunan target dividen Pertamina sebesar Rp 5,74 triliun ini akhirnya mempengaruhi total setoran dividen 2009,” terangnya.

Berdasar data Kementerian BUMN, prognosa laba Pertamina 2009 diperkirakan Rp 27,7 triliun. Dengan hitungan persentase dividen disetor dibandingkan laba (pay out ratio) sebesar 45 persen, tahun depan Pertamina diperkirakan hanya menyetor dividen Rp 12,5 triliun.

Selain terpengaruh penurunan harga minyak, kata dia, kinerja Pertamina tahun depan juga terganggu akibat kerugian bisnis elpiji 12 dan 50 kg sebesar Rp 4 triliun. ”Apalagi, Pertamina juga akan alokasikan belanja modal Rp 21,35 triliun untuk eksplorasi guna meningkatkan cadangan dan produksi migas,” katanya Jawapos.

This entry was posted on Friday, September 19th, 2008 at 1:18 pm and is filed under bisnis indonesia. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply