Finansial dan Bisnis Indonesia : Harga Saham Merosot Tajam

Sektor finansial sedang terguncang. Harga-harga saham dan surat utang merosot tajam. Namun jangan terlalu pesimistis. Justru ini adalah momentum untuk mendulang keuntungan di pasar finansial.

Resah dan gelisah. Itulah yang dirasakan sebagian besar investor finansial di Indonesia saat ini. Baik mereka yang berinvestasi langsung di saham, maupun yang menanamkan modal dalam bentuk reksadana, investor merasa tak aman.

Menjual saham atau reksadana, pasti rugi. Mempertahankannya juga tidak berani karena khawatir koreksi terus terjadi. Lantas apa yang harus dilakukan?

Pakar investasi Rian E. Kaslan meminta investor agar tetap tenang. Harus dicermati lebih jernih apa penyebab utama krisis finansial saat ini. “Guncangan di pasar saham sekarang kan lebih banyak karena imbas krisis finansial di AS sehingga mendorong sentimen negatif di pasar,” kata Rian yang menjabat Head of Wealth Management Commonwealth Bank.

Rian melihat tak ada penurunan dari sisi fundamental. Aspek makro ekonomi juga baik. Ini bisa dilihat dari GDP (produk domestik bruto) yang bertahan di atas 6 persen. Padahal inflasi terus melambung setelah kenaikan harga BBM.

“Ini masih di atas ekspektasi pasar. Kalau melihat price earning ratio saham kita dengan indeks di level 1.600-an mencapai 10 kali, ini sudah murah. Karena PER yang wajar sekitar 12 kali,” kata wanita cantik lulusan

Menurutnya apabila seseorang akan berhenti di tengah jalan, perlu dipertimbangkan apakah ke depan akan ditemukan pilihan investasi yang bisa mengembalikan orang tersebut ke titik awal. ”Misalnya, apabila ada yang loss 30 persen di pasar saham, untuk mengembalikan uang pada titik awal, maka perlu investasi yang memberikan return sebesar 43 persen,” ungkapnya.

Rian mengaku telah ada beberapa investor yang bermaksud memindahkan dana ke produk deposito yang ditawarkan oleh banyak bank lain dengan rate yang sangat tinggi (12-13 persen). ”Saya hanya mengingatkan pada mereka jika rate tinggi itu juga tak akan berlaku selamanya. Paling lama rate itu hanya berlaku satu tahun dan jika hal itu terjadi kemungkinan bisa kembali ke jumlah modal awal sangat kecil,” ungkapnya.

Namun keputusan tetap di tangan nasabah. Yang dilakukannya adalah memberikan gambaran mengenai keadaan pasar modal sekarang dan pandangan ke depan. ”Tapi apabila ada nasabah yang sudah sama sekali tidak bisa mengalami kerugian lebih dari saat ini, kita tidak akan melarang mereka untuk cut loss,” ungkapnya.

Rian sendiri yang memiliki portofolio di reksadana memilih tetap tenang. ”Kuncinya adalah dengan menyadari rosiko dalam berinvestasi di pasar saham. Dana yang saya tempatkan adalah untuk jangka panjang bukan untuk short term,” terangnya.

Rian mengaku saat ini pihaknya tidak melihat ada kepanikan luar biasa di antara nasabah. Hanya memang mereka ingin tahu lebih dalam bagaimana dampak jatuhnya beberapa insitusi keuangan di Amerika terhadap pasar modal Indonesia Jawapos.

Friday, September 19th, 2008 at 12:15