Mari kita cegah kepunahan satwa Babi Rusa

Tengkorak Babi Rusa yang di jual
cegah satwa punah dot com kali ini mengulas tentang Babi Rusa yang ada di Pulau Buru Indinesia. Selama ini, Pulau Buru belum lagi dijadikan daerah tujuan wisata, tetapi bagi pecinta lingkungan dan penggemar wisata petualangan, di Pulau Buru ini cukup banyak potensi terpendam yang siap dinikmati, antara lain suasana perburuan yang sampai sekarang masih dilakukan oleh orang Rana, penduduk asli Pulau Buru. Sedangkan bagi yang gemar memperhatikan tingkah laku dan mendengarkan berbagai suara burung, sangat mengasyikkan melakukannya di Pulau Buru.
Babi rusa ini merupakan salah satu hewan yang di lindungi pemerintah dan hukum Indonesia. Jadi team cegah satwa punah dot com, sangat mengharapkan bantuan kepada pihak semuanya untuk selalu melindungi mereka dari perburuan liar.
sebenarnya Babi rusa ini memiliki 4 sub species yang hanya terdapat di Pulau Buru, Kepulauan Sula, Sulawesi Tengah, bagian Timur dan Kepulauan Togian (Sulawesi Tengah). Masyarakat asli Pulau Buru menyebutnya Fafu Boti yang artinya babi putih yang terdiri dari dua jenis, Bile dan Fafu Boti / Babi putih]. Fafu Boti inilah yang dikenal sebagai bagai rusa.
Seperti yang diketahui, kedua jenis ini sering berjalan bersama. Sangat berbeda antara Bile dan Fafu Boti, Bile warna tubuhnya lebih gelap (putih agak keabu-abuan) dan tubuhnya kecil bila dibandingkan dengan Fafu Boti. Babi putih memiliki nama yang berbeda-beda tergantung dari ukuran naniri-nya, yaitu taring yang tumbuh pada kedua sisi mulutnya sebagai senjata untuk membela diri. Bila naniri-nya baru tumbuh, maka binatang itu disebut Paktout, dan kalau sudah panjang melingkar, Pakiplalit. Lain lagi kalau babi putih ini besar dan naniri-nya pun besar dan melingkar, maka disebut, Sekanotin. Untuk membedakan mana jenis yang jantan dan mana yang betina tidak terlampau sulit. Yang betina tidak memiliki naniri, sedangkan yang jantan dewasa berukuran lebih besar dari ukuran babi jenis lain yang ada di Pulau Buru. Badannya pun lebih panjang, dengan kaki depan yang lebih pendek dari kaki belakang. Taringnya tidak pernah digosok-gosokkan di batu seperti babi lainnya serta kulitnya yang ‘lembek’ pun tidak keras. Hanya saja jenis ini selalu berusaha untuk mematahkan taringnya. Sebab, kalau taringnya terus memanjang, akibatnya akan menusuk ke matanya. Sehingga dapat dikatakan, bahwa umur babi juga ditentukan oleh naniri-nya sendiri.
Dukung team cegah satwa punah dot com untuk membantu melestarikan satwa Indonesia dari kepunahan dengan cara menempatkan kode ini di blog anda :
Archived under binatang, cegah satwa punah, hutan, mammal, satwa Comments (3)

